oleh

PERAYAAN TAHUN BARU IMLEK 2571 KONGZILI MAJELIS TINGGI AGAMA KHONGHUCU INDONESIA (MATAKIN) 2020

-Nasional-658 views

Jakarta,Kompasindo.net-Hari raya Tahun Baru Imlek adalah suatu hari suci keagamaan bagi umat Konghucu disamping hari suci lainnya seperti Duan Yang (Puncak musim panas) Zhong Qiu (Pertengahan Musim Rontok) Dong Zhi (Puncak Musim Dingin), Qing Ming (Sadranan) dan Zhisheng Dan ( Hari Lahir Nabi Kongzi Confucius ).

Karena sejarah agama Khonghucu (Ru Jiao) banyak berimpitan dengan sejarah orang Tionghoa dan agama Khonghucu telah mempengaruhi kehidupan masyarakat di Kawasan Asia Timur sejak beberapa abad lamanya, tidak heran bila Tahun Baru Imlek juga dirayakan dan menjadi tradisi bagi masyarakat Tionghoa dan luas dirayakan di Tiongkok, Korea, Vietnam, Mongolia, Taiwan dan Jepang dengan nama berbeda-beda.

Sebagai ketua Umum MATAKIN Bapak Budi Santoso Tanuwibowo dalam sambutannya menjelaskan Salam kebangsaan Indonesia dalam agama Khonghucu yang artinya adalah hanya oleh kebajikan Tuhan berkenan dan orang juga bertanya kenapa Tema kita pada hari ini ada kata-kata kebajikan akan menumbuhkan takut dan hormat Gemilang kebajikan menumbuhkan kecerahan jika agama-agama lain punya jalan dan prinsipnya sendiri agama Konghucu umat Konghucu yakin bahwa satu-satunya Jalan Kembali bersih kehadiran Tuhan Yang Maha Esa hanya satu dengan berbuat kebajikan.

Seperti tahun-tahun sebelumnya Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) kembali mengadakan perayaan “Hari Raya Tahun Baru Imlek 2571 Kongzili” secara nasional, terhitung sejak Perayaan Imlek nasional pertama 17 Februari 2000, yang waktu itu dihadiri Presiden RI KH. Abdurrahman Wahid, Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri ketua MPR Prof.Dr. Amien Rais, ketua DPR Ir. Akbar Tanjung, serta beberapa tokoh bangsa, termasuk Menteri Pertambangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Seminggu kemudian presiden Gus Dur juga menghadiri perayaan Cap Go Meh yang diadakan MATAKIN KOMDA Jawa Timur. Selain menyapa umat Konghucu di Jakarta dan Surabaya Gus Dur juga memberikan hadiah Imlek sebagai hari libur Fakultatif, dan sebelumnya beliau mencabut Inpres 14/1967 dengan Keppres Nomor 6 Tahun 2000. KTP Khonghucu yang sebelumnya dilarang dipulihkan 31 Maret 2000. Presiden Gus Dur hadir dalam perayaan Imlek nasional pertama dan kedua MATAKIN.

Pada perayaan Imlek nasional ketiga dalam amanatnya di hadapan ribuan umat Konghucu yang hadir, Presiden Megawati Soekarnoputri menetapkan Tahun Baru Imlek sebagai Hari Libur Nasional. Presiden Mega hadir pada perayaan Imlek nasional ke 3, 4 dan 5.

SBY atau Susilo Bambang Yudhoyono juga pernah hadir berturut-turut 15 kali dalam perayaan Imleknas matakin terhitung sejak tahun 2551 Kongzili/2000 sampai tahun 2565/2014 (5 kali sebagai Menteri dan 10 kali dalam kapasitas sebagai Presiden Republik Indonesia).
Pada kehadirannya di Imleknas 2557/2006, SBY memulihkan seluruh hak-hak sipil umat Konghucu secara tuntas ; pencatatan sipil bagi pasangan Konghucu yang akan menikah, pelajaran Konghucu di sekolah, pendirian rumah ibadah, serta pelayanan di Kementerian Agama. bahkan di akhir pemerintahannya beliau menyetujui dan membuka peluang pendirian Bimas Khonghucu di Kementerian Agama. Namun sayang sampai sekarang belum terealisasi.

Perayaan Imleknas Matakin XXI kali ini diadakan di Jakarta Convention Center pada hari Minggu 2 Februari 2020 dari jam 16.00 sampai dengan 18.00. Sebagai Ketua Panitia adalah Bapak Js. Kuh Sambih, Dimana pada perayaan imleknas kali ini akan dihadiri 5.000 undangan dari seluruh Indonesia. Dimana Turut hadir dalam acara ini juga Pejabat dan mantan pejabat negara yaitu Bapak Menteri Agama RI Jend.Pur. Fahrul Razi, Menkopolhukam Mahfud MD, Gubernur DKI Anies Baswedan, Bpk. Jimly Asshiddiqie (mantan anggota Dewan pertimbangan presiden 2010) yg juga ketua Dewan Kehormatan MATAKIN, Mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Mantan Menkeo Rizal Ramli.

Tema yang diambil adalah “Wibawa Kebajikan Menumbuhkan Takut – Hormat; Gemilang Kebajikan Menumbuhkan Kecerahan”. Tema yang dipetik dari Kitab Suci Shu Jing V, Bab XXXVII :7 ini menegaskan bahwa disamping kita semua wajib menanamkan, merawat dan menyebarkan Kebajikan, tetapi proses, cara atau metodologi nya juga harus dilaksanakan dengan baik dan dijalankan dengan keteladanan. bila dilakukan dengan kekuasaan atau semata karena mengandalkan kewibawaan tetap masih bisa menumbuhkan rasa takut atau keterpaksaan. namun bila dilaksanakan dengan contoh teladan dari Sang Pemimpin atau melalui pendidikan karakter niscaya tercerahkan semuanya. (Hasan WD)

News Feed