oleh

Kratom, Psychoactive Jenis Baru Dari Bumi Borneo

-Nasional-505 views

Jakarta, kompasindo.net –
Kratom merupakan Tumbuhan hijau nan subur yang telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat Kalimantan khususnya di Kalimantan Barat.

Pohon ini bisa mencapai ketinggian 15 meter, kebiasaan masyarakat menggunakan daun kratom dengan cara mengolahnya menjadi serbuk, bisa juga diseduh seperti teh herbal, untuk fungsi pemgobatan secara rutin rata-rata biasa digunakan 10-60 helai daun setiap harinya, sedangkan nama latin Kratom itu sendiri adalah (Mitragyna speciosa).

Di beberapa negara seperti Thailand, Myanmar, Malaysia termasuk Indonesia Tanaman Kortum ini sudah sejak dulu kala dimanfaatkan oleh banyak penduduk untuk keperluan berbagai pengobatan secara tradisional yang ternyata sangat manjur untuk mengobati berbagai penyakit khususnya diare, sulit tidur, kelelahan, menambah tenaga serta rasa nyeri.

Beberapa penetitian yang telah dilakukan menemukan bahwa kratom atau sering juga disebut daun purik atau ketum itu sudah sejak lama dikonsumsi oleh sebagian rakyat Thailand sebelah selatan dan Negara Malaysia arah utara.

Masyatakat umumnya percaya bahwa tanaman ini dapat membantu mengurangi rasa sakit, manjur dan bisa mengurangi rasa kecapaian/ lelah, membuat rasa santai dan rileks, bahkan konon ampuh menolong para penikmat opium untuk berhenti menjadi pencandu.

Luar biasanya ternyata kehebatan maupun keampuhan kortum alias ketum alias purik ini sudah terkenal dan viral ke mancanegara hingga sangat terkenal di Negara paman sam Amerika Serikat.

Namun, akhir-akhir ini kratom yang banyak manfatnya itu ternyata sudah mulai disalahgunakan sebagai Narkoba, mungkin karena efeknya yang hampir sama dengan opium dan kokain.

Kontroversi Kratom.

Menurut beberapa literatur faktanya kratom menimbulkan efek samping apabila dikonsumsi secara terus menerus bahkan dapat mengakibatkan kecanduan, anoreksia serta insomnia,

Ternyata untuk konsumsi ukuran kecil pun kratom ini bisa menimbulkan efek samping layaknya halunisasi.
Meskipun orang yang menggunakan kratom percaya pada nilainya, para peneliti yang telah mempelajari kratom lebih memikirkan efek samping dan masalah keamanan daripada manfaat potensial.

Pusat kendali racun di Amerika Serikat menerima sekitar 1.800 laporan yang melibatkan penggunaan kratom dari 2011 hingga 2017, termasuk laporan kematian.
Sekitar setengah dari paparan ini menghasilkan hasil negatif serius seperti kejang dan tekanan darah tinggi. Lima dari tujuh bayi yang dilaporkan terpapar kratom mengalami ketergantungan.
Selain itu, zat yang terbuat dari kratom dapat terkontaminasi dengan bakteri salmonella.

Pada April 2018, lebih dari 130 orang di 38 negara bagian terserang Salmonella setelah mengonsumsi kratom. Keracunan salmonella bisa berakibat fatal, dan Badan Pengawas Obat dan Makanan AS telah menghubungkan lebih dari 35 kematian dengan kratom yang tercemar Salmonella. Kontaminasi salmonella tidak memiliki tanda-tanda yang jelas, jadi cara terbaik untuk menghindari sakit adalah dengan menghindari produk yang mungkin mengandungnya.

Pada suatu waktu, beberapa peneliti percaya bahwa kratom mungkin menjadi alternatif yang aman untuk opioid dan obat penghilang rasa sakit lainnya. Namun, studi tentang efek kratom telah mengidentifikasi banyak masalah keamanan dan tidak ada manfaat yang jelas.

Kratom telah dilaporkan menyebabkan fungsi otak abnormal ketika diminum dengan obat resep.
Ketika ini terjadi, Anda mungkin mengalami sakit kepala parah, kehilangan kemampuan untuk berkomunikasi atau menjadi bingung.

Selanjutnya dalam sebuah penelitian yang menguji kratom sebagai pengobatan untuk gejala penarikan opioid, bahwa orang yang menggunakan kratom selama lebih dari enam bulan melaporkan gejala yang serupa dengan yang terjadi setelah penggunaan opioid. Juga, orang yang menggunakan kratom bisa mulai ketergantungan dan memerlukan perawatan yang diberikan untuk kecanduan opioid, seperti nalokson (Narcan) dan buprenorfin (Buprenex).

Legalitas sang Kratom.

Sampai saat ini legalitas kratom masih dipertanyakan banyak negara, dan Indonesia lewat Badan Narkotika Nasional sedang memroses kratom menjadi obat-obatan terlarang Golongan I, Melalui Laboratorium Badan Narkotika Nasional (BNN) telah memasukkan kortum kedalam daftar New Psychoactive Substances (NPS).

Walaupun dalam peraturan Kementerian Kesehatan RI No 13 tahun 2014, kortum tersebut belum termasuk yang diatur peredarannya. Begitu juga di banyak Negara masih banyak pro dan kontra tentang kratom ini.

Banyak peneliti telah mengkonfirmasi bahwa sifat adiktif dari kratom dan menemukan bahwa penggunaan kratom secara berlebihan dapat menyebabkan masalah dengan kemampuan belajar, memori,dan kemampuan kognitif lainnya.

Bahkan ketergantunga kortum juga dapat menyebabkan efek samping seperti mual berkeringat, ketidakmampuan tidur, alias insomnia dan halunisasi (hellosehat).
Memang manfat daun kratom ini tak bisa dipungkiri masih banyak, terutama dari aspek ekonomi masyarakat, sebagai mata pencaharian keluarga yang bisa membantu meningkatkan taraf hidup, tapi mudaratnya pun ternyata sangat banyak pula bahkan sampai sekarang pengaturan atau undang-undang tentang peredaran kratum sampai pengunaannya pun masih belum ada, walau Badan Narkotika Nasional (BNN) sudah akan melarangnya pada tahun 2022.

Sedangkan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) pun memang ternyata sudah melarang penggunaan kratom sebagai obat tradisional dan suplemen makanan, perihal tersebut dinyatakan dengan surat keputusan kepala BPOM Nomor :HK 00.05.23.3644 tahun 2004, tentang ketentuan pokok pengawasan suplemen makanan dan peraturan kepala BPOM tahun 2005, Nomor: HK 00.05.41.1384, tentang kriteria dan tata laksana pendaftaran obat tradisional, obat herbal terstandar dan fitofarmaka serta surat edaran BPOM Nomor: HK 04.4.42.421.09.16.17.40, tahun 2016, tentang pelarangan penggunaan mitragyna speciosa (kratom) dalam obat tradisioal dan suplemen makanan.

Disinyalir bahwa BPOM mengeluarkan pelarangan penggunaan kratom tersebut sebagai obat tradisional dikarenakan pengaruh efek stimulan kratom tersebut pada dosis rendah sedangkan sedative narkotika pada dosisi tinggi.

Sesuai Peraturan BNN yang akan berlalku afektif tahun 2022, walaupun masih ada masa transisi dalam pelarangan kratom, namun bagaimanapun kenyataannya bahwa produk kratom itu sudah terlanjur beredar di pasar bebas bahkan di pasar daring atau online (Thai kratom),masih mudah ditemui, sedangkan manfaat kratom secara medis pun nyatanya masih meragukan, alangkah bijaknya apabila kita khusunya para orangtua harus selalu mengawasi segenap anggota keluarganya agar menghindari mengkonsumsi kratom mulai sekarang, dengan alasan apapun agar senantiasa terjaga dari kemudaratan berkelanjutan yang merugikan generasi calon pemimpin bangsa kita masa depan.

Dr,Syahnan Phalipi, S.H.,M.M
# Ketua Umum DPP HIPMIKINDO.
# CEO Java Lawyer International.
Senin, (18/05/2020)

News Feed