oleh

Syahnan Phalipi Bicara Mental Milenial Kekinian

-Nasional-662 views

Jakarta, kompasindo.net – Mungkin saja terlihat mereka sedang masa keren-kerennya atau perasaannya selalu happy tak peduli apa kata orang lain, ternyata penelitian terbaru menunjukkan bahwa generasi Milenial—orang-orang yang lahir dari sekitar tahun 1981 hingga 1996—lebih cenderung wafat sebelum waktunya karena overdosis bunuh diri dan penyalahguna obat terlarang daripada generasi sebelumnya.

Mungkin itu tak didiharapkan, mengingat kekurang stabilan yang dihadapi generasi Milenial dalam beberapa tahun terakhir. Setelah berebut tangga karier yang licin selama resesi berat seperti tahun 1998 dan 2008, generasi Milenial dibanting dengan epidemi opioid obat pereda nyeri ( obat ini dibuat dari tanaman opium seperti morfin). Miliaran pil narkotika dikirim ke bagian AS di mana orang memiliki sedikit peluang untuk hidup lebih baik, malah lebih banyak mudaratnya.

Saat ini bahkan lebih banyak tantangan untuk generasi muda. Banyak milenial yang memiliki karir mereka lumpuh oleh resesi 2008 sedang dilemparkan ke dalam kemerosotan ekonomi, sama seperti mereka seharusnya mereka sukses mencapai puncak karir. Namun karena pembatasan social-distancing dimaksudkan untuk mengurangi penyebaran covid 19, orang-orang muda milenial yang berharap untuk menemukan segera pasangan hidup mereka, faktanya akibat wabah corona banyak pernikahan yang tertunda belum dapat terealisasi sesuai rencana bahkan banyak rencana pernikahan tertunda berbulan-bulan.

Dan masih lebih banyak lagi akibat menyedihkan lainnya karena wabah COVID-19, penyakit yang disebabkan oleh coronavirus tersebut, mungkin bisa berlangsung sampai tahun depan, bahkan bisa saja berkelanjutan ke tahun berikutnya bahkan bukan tidak mungkin merupakan dampak terburuk bagi para milenial baik dalam karier maupun asmara.

Generasi Milenial yang lebih senior beranjak menjadi lebih dewasa setelah kasus Sembilan Sebelas (/11) di Amerika, berjuang dalam dua perang, memasuki pasar kerja selama resesi, dan sekarang mengjhadapi pandemi global yang terlalu mahal untuk dilalui.

Mereka telah mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat daripada generasi lain dalam sejarah AS, menurut analisis Washington Post, sepertinya tidak jauh beda dengan di Indonesia, ada kegamangan generasi muda milenial dalam menghadapi krisisi ekonomi yang sudah terang didepan mata, bahkan pada kuawartal ke tiga tahun ini kita mengalami kontraksi sebesar 5% lebih.

Laporan lain dari Trust for America’s Health tahun lalu menemukan bahwa kematian terkait narkoba di antara orang-orang berusia 18 hingga 34 tahun lebih dari dua kali lipat dari 2007 hingga 2017, sementara kematian terkait alkohol naik 69 persen dan bunuh diri sebesar 35 persen.

Pada tahun 2017, orang kulit putih tanpa gelar sarjana yang lahir pada tahun 1980 empat kali lebih mungkin untuk wafat karena bunuh diri daripada mereka yang memiliki gelar sarjana, karena ekonom Princeton Anne Case dan Angus Deaton menulis dalam buku baru mereka, Deaths of Despair dan Masa Depan Kapitalisme.

Pekerjaan yang baik yang digunakan untuk tersedia bagi orang-orang tanpa gelar perguruan tinggi perlahan-lahan menguap. “Pekerjaan adalah sumber makna dalam hidup kita,” kata Cheryl Fulton, seorang profesor dalam program konseling di Texas State University. “Jadi jika Anda tidak memiliki pekerjaan atau menganggur, Anda tidak memperoleh kepuasan yang berasal dari makna dan tujuan pekerjaan menyedihkan bukan?.”

Generasi milenial tanpa gelar sarjana mendapatkan jauh lebih sedikit di awal masa dewasa daripada generasi sebelumnya, menurut laporan lain dalam seri Stanford. Gaji rata-rata untuk seorang pria berusia 25 tahun dengan gelar SMA atau kurang adalah $ 29.000 per tahun, yaitu sekitar $ 2.600 kurang dari apa yang Gen Xers peroleh pada usia itu dan hampir $ 10.000 kurang dari Baby Boomers.

Bahkan para terapis yang banyak menangani gernerasi milenial mengatakan kepada bahwa banyak klien mereka merasa frustrasi dan malu bahwa mereka tidak mampu membeli “hal-hal dewasa” seperti rumah dan liburan, baik karena mereka tidak mendapatkan cukup atau karena mereka diblenggu berbagai pinjaman mahasiswa yang sangat besar. Anggapan bahwa pernikahan dapat meringankan kesepian dan mengurangi ketegangan keuangan, tetapi faktanya di berbagai Negara generasi Milenial akan menikah lebih lambat dari generasi sebelumnya.

Orang mungkin mulai merasa seperti beban atau, jika mereka tidak dapat menemukan pekerjaan, sepertinya mereka tidak memiliki cara untuk membangun jejaring social, lebih daripada di budaya lain, Indonesia beda dengan Negara lain seperti di Amerika cenderung terjalin antara pekerjaan mereka dengan identitas mereka.

Namun generasi Milenial adalah generasi pertama yang sudah cukup umur dengan Facebook dan Twitter atau media sosial lainnya dipaksa untuk membandingkan diri mereka dengan orang lain tetapi tidak cukup letih untuk mengetahui betapa negatifnya perbandingan ini, kondisi ini selalu dimanfaatkan oleh para pengedar penyalur agen narkotika atau obat-obat terlarang lainnya atau apapun namanya untuk menawarkan ketenangan semu sesaat yang amat merugikan masa depan sang milenial tatkala hati sedang gundah seringkali lebih mudah tergoda bujuk rayu.

Salah satu cara terbaik untuk mencegah kegundahan, galau dan depresi karena krisis adalah membuat mereka senantiasa merasa tidak sendirian dengan selalu mendampinginya, membantu untuk memberikan advokasi serta konsultasi berkelanjutan kemudian meyakinkan mereka bahwa masih banyak orang yang peduli tentang mereka. Bahkan tidak harus menjadi seseorang yang istimewa untuk menjadi sukses.

#Syahnan Phalipi.
#Ketua Umum, Founder DPP HIPMIKINDO.
#Ketua Bidang Strategis dan Pengembangan Koperasi Dekopin Jakarta.
#CEO Java Lawyer International.
#Staf Ahli/Kelompok Ahli BNN.

News Feed