oleh

Abdul Fickar Hadjar : Eksekutor / pimpinan POLRI yang menghabisi 6 laskar FPI, Terancam pidana mati

-Nasional-132 views

Jakarta, kompasindo.net –
Pakar hukum pidana dari Universitas Trisakti Abdul Fickar Hadjar berpendapat, eksekutor ataupun pimpinan Kepolisian RI (Polri) yang ditugaskan menghabisi enam (6) nyawa laskar anggota 3FP31, bisa diancam pidana mati atas tuduhan melakukan pembunuhan berencana.

Dilansir dari TributeAsia.com, Fickar lantas menjelaskan, kejahatan kemanusiaan adalah perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil.
Ya, (pidana mati atau) seumur hidup atau 20 tahun.
“Eksekutor dan pimpinan yang ditugaskan dapat dikenakan sebagai kejahatan kemanusiaan (crimed against humanity), baik sebagai pelaksana, maupun intelektual dader (pelaku) dapat disangkakan pasal 340 j, pasal 338 jo, pasal 55 KUHP,” kata Fickar dalam pesan singkat yang diterima Tagar di Jakarta, Rabu, 16 Desember 2020.

Perlu diketahui, kejahatan dalam Pasal 340 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dinamakan pembunuhan dengan direncanakan terlebih dahulu. Ancaman pidana dalam pasal tersebut adalah hukuman mati atau penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun.

Fickar menegaskan, apabila eksekutor yang secara sengaja menewaskan enam nyawa laskar 3FP31 terbukti melanggar pasal tersebut, maka konsekuensinya teramat berat.
Ya, (pidana mati atau) seumur hidup atau 20 tahun,” ucapnya menegaskan.

Selain itu, kata Fickar, eksekutor ataupun pihak yang menyuruhnya menghabisi nyawa warga sipil juga bisa tersandung pasal Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 yang mengatur tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM).
“Yang berupa pembunuhan dan lain-lain. Juga bisa disangkakan melanggar Pasal 9 UU No.26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM,” kata dia.

——–

Sementara, Anggota Komisi I DPR Fadli Zon menilai kasus penembakan terhadap enam laskar 3FP31 janggal, lantaran narasi polisi berubah-ubah.
“Dari narasi yang berubah-ubah, jelas sekali kejanggalan pembunuhan 6 anggota 3FP31 itu,” tulis Fadli lewat @fadlizon, dikutip Tagar, Rabu, 15 Desember 2020.

Maka itu, Fadli meminta polisi bersikap transparan, termasuk membuka pelaku penembakan yang membuat nyawa enam laskar melayang.
“Sekarang sebaiknya dibuka siapa pelaku/eksekutor penembakan. Jangan disembunyikan!” kata politikus Gerindra itu.

Sebelumnya, Kapoda Metro Jaya Irjen Fadil Imran mengaku, anggotanya sempat melakukan baku tembak melawan laskar 3FP31 di Jalan Tol Jakarta-Cikampek KM 50 pada Senin dini hari, 7 Desember 2020 lalu.

Peristiwa tersebut mengakibatkan enam nyawa melayang, semuanya dari anggota 3FP31.
Namun, insiden baku tembak dibantah keras oleh Sekretaris Umum 3FP31 Munarman. Menurut dia, anggota 3FP31dilarang membawa senjata ataupun bahan peledak.(Red)

News Feed