oleh

MUI Menyampaikan Duka Cita Mendalam Atas Bencana Alam Di Provinsi NTT & Merespon Tanggap Darurat Musibah Banjir di Nusa Tenggara Timur

-Nasional-83 views

Jakarta, 7 April 2021 –
Majelis Ulama Indonesia menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas bencana alam berupa banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Timur sebagai dampak cuaca ekstrem yang ditandai munculnya Siklon Tropis Seroja yang terjadi pada hari Minggu, 4 April 2021. Siklon tropis ini berdampak di delapan wilayah administrasi kabupaten dan kota; diantaranya Kota Kupang, Kabupaten Flores Timur, Malaka, Lembata, Ngada, Sumba Barat, Sumba Timur, Rote Ndao dan Alor. Kerugian akibat bencana diantaranya 1.962 unit rumah terdampak, 119 unit rumah rusak berat (RB), 118 unit rumah rusak sedang (RS), dan 34 unit rumah rusak ringan (RR). Sedangkan fasilitas umum (fasum) 14 unit RB, 1 RR, dan 84 unit lain terdampak.

Menurut data BNPB berdasarkan siaran Kantor Berita Antara pada tanggal 6 April 2021 tercatat korban bencana alam di NTT telah menelan korban 128 warga meninggal dunia dan korban hilang sebanyak 72 orang. Sebanyak 2.019 kepala keluarga (KK) atau 8.424 warga mengungsi serta 1.083 KK atau 2.683 warga lainnya terdampak. MUI menghimbau pada masyarakat luas, khususnya umat Islam dan para aghniya (dermawan) agar mengulurkan tangan guna meringankan beban masyarakat akibat bencana. Saluran bantuan bisa disalurkan melalui berbagai lembaga yang kredibel dan dipercaya.

Majelis Ulama Indonesia menyampaikan duka yang mendalam atas banyaknya korban jiwa dalam bencana alam di NTT. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun, sesungguhnya kita semua milik Allah swt dan kepada-Nya kita akan kembali. Bencana ini semua merupakan musibah, ujian (bala’) atau cobaan (fitnah). Bagi masyarakat NTT yang terkena bencana, diharapkan untuk bersabar, ridha dan berserah diri kepada Allah semata seraya berdoa memohon kekuatan dalam menghadapinya.

Selain itu, bencana ini merupakan peringatan untuk kita semua agar senantiasa mawas diri, berserah diri dan memperbaiki diri. Wajarlah kiranya pada saat terjadi bencana, Islam mengajarkan agar manusia selalu melakukan introspeksi diri, melakukan muhasabah atas dosa dan kesalahan yang telah dilakukan. Hadits dari Sahal bin Sa’d, beliau berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Berhati-hatilah dari dosa-dosa yang dianggap remeh, karena permisalan dosa-dosa yang dianggap remeh ibarat suatu kafilah safar yang bermalam di sebuah lembah, setiap orang mengumpulkan sebuah kayu bakar hingga mereka dapat memasak roti mereka. Sesungguhnya dosa-dosa yang dianggap remeh itu dapat membinasakan pelakunya (dan orang lain yang mebiarkannya).”
Pembiaran manakala sudah dianggap umum dan biasa, maka akan menjadi bencana alam (nasional). Bencana alam yang banyak terjadi dimungkinkan disebabkan dosa-dosa kecil yang diremehkan dan tidak disangkanya. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Q.S. Al Anfal Ayat 25: “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja diantara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya”.

Bisa jadi, bencana alam muncul karena ada faktor perilaku manusia. Diantaranya, pudar dan menurunnya etika dalam memperlakukan alam seperti penebangan hutan secara liar dan semanamena. Hutan menjadi gundul dan tanaman berkurang secara signifikan. Akibatnya, suhu, iklim dan kecepatan angin menjadi ekstrim yang disebabkan karena rusaknya ekosistem dalam skala kecil maupun skala yang luas.

Masih dalam suasana pandemi Covid-19, Majelis Ulama Indonesia mengajak masyarakat maupun korban bencana NTT agar tetap mematuhi protokol kesehatan, yaitu dengan tetap menjaga jarak, menghindari kerumunan, sering mencuci tangan dan tetap menggunakan masker. Kepatuhan menerapkan protokol kesehatan dimulai dari aparatur dan tokoh masyarakat, petugas medis dan para relawan serta masyarakat di daerah bencana. Dengan demikian, maka akan
terhindar dari efek kerugian yang lebih besar.

Majelis Ulama Indonesia melalui Lembaga Penanggulangan Bencana Majelis Ulama Indonesia akan turut serta dalam menangani penanggulangan bencana di NTT. Pertama, yaitu melakukan koordinasi dan berkolaborasi dengan berbagai lembaga dan badan yang menangani penanggulangan bencana, khususnya yang berbasis pada Ormas Islam maupun berbasis pada masyarakat. Kedua, akan berkoordinasi dengan MUI Provinsi dan MUI Kabupaten/Kota yang berada di daerah bencana. Ketiga, MUI akan menyalurkan bantuan berupa sejumlah uang dari donasi masyarakat, kurma dan obat-obatan. Keempat, membuka rekening donasi bagi masyarakat yang ingin menyalurkan bantuan melalui MUI ke rekening BNI Syariah Nomor 0997987987 an. Tim Penanggulangan Bencana MUI. Konfirmasi SMS/WA ke Akhmad Baidun (+6289665721369), Hj. Trisna Nungsih Yuliati, SE. MM (+6281283808068), dan
Ferawati (+6281219584043).

News Feed