oleh

Peningkatan Layanan Air Limbah di DKI Jakarta melalui Program Revitalisasi Tangki Septik dan Pengembangan Pengolahan Air Limbah Zona 0

 

Jakarta, 22 Maret 2021 – PAL Jaya merupakan perusahaan daerah milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang bergerak di bidang pengelolaan air limbah di DKI Jakarta. Pengelolaan air limbah di DKI Jakarta saat ini dilakukan melalui 2 (dua) metode yaitu Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALDT) dan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Setempat (SPALDS). SPALDT adalah metode pengelolaan dengan cara mengalirkan air limbah domestik yang berasal dari rumah tangga, niaga kecil, niaga besar (perkantoran, apartemen, mall, rumah sakit), dan bangunan sosial menuju Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Setiabudi melalui jaringan perpipaan, sehingga air hasil olahan dapat dibuang ke badan air sesuai standar baku mutu Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 68 Tahun 2016. Sedangkan SPALDS adalah sistem pengelolaan yang dilakukan dengan mengolah air limbah domestik di lokasi sumber yang selanjutnya lumpur hasil olahan diangkut dengan sarana pengangkut ke Instalasi Pengolahan Lumpur Domestik (IPLD).

Cakupan pelayanan air limbah melalui sistem perpipaan (SPALDT) baru mencapai 13,33% (PAL Jaya, 2020). Hal ini disebabkan jaringan perpipaan air limbah PAL Jaya baru berada di zona 0 (meliputi kawasan HR. Rasuna Said, Mega Kuningan, Jalan Jenderal Sudirman, SCBD, Senayan, Gatot Subroto, Manggarai, Guntur dan Setiabudi) serta beberapa faktor lainnya seperti tingginya biaya investasi, perolehan perizinan pekerjaan yang lama, terbatasnya ketersediaan lahan, dan banyaknya utilitas eksisting yang terpasang sedangkan jaringan perpipaan air limbah merupakan utilias yang diletakkan paling bawah. Oleh karena itu, sebagai upaya peningkatan akses sanitasi masyarakat, Pemerintah Provinsi (Pemprov.) DKI Jakarta melakukan pendekatan melalui sistem setempat yaitu Program Subsidi Revitalisasi Tangki Septik. Program ini merupakan program subsidi dari Pemprov. DKI Jakarta melalui Dinas Sumber Daya Air (DSDA) Prov. DKI Jakarta sebagai verifikator dan pemberi rekomendasi dan PAL Jaya sebagai pelaksana sesuai dengan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 9 Tahun 2020 tentang Revitalisasi Tangki Septik.

 

 

Warga yang menerima manfaat dari program ini, apabila terdaftar dalam Data Terpadu Fakir Miskin dan Orang Tidak Mampu (DTFMOTM) hanya dikenakan biaya Rp 200.000, sedangkan warga yang tidak terdaftar dikenakan biaya Rp 350.000. Selain sulitnya meningkatkan cakupan layanan air limbah melalui sistem perpipaan (SPALDT), latar belakang dari program ini antara lain tangki septik yang digunakan warga kebanyakan tidak kedap sehingga berpotensi mencemari lingkungan dan masih adanya perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) masyarakat di Jakarta sebesar 4,30%. Sehingga diharapkan dengan terlaksananya program ini dapat meningkatkan akses sanitasi yang layak bagi masyarakat Jakarta melalui SPALDS.

 

Lingkup kerja program ini adalah penggantian atau pemasangan tangki septik rumah tangga di wilayah Jakarta. Sedangkan untuk kriteria penerima manfaat dari program ini ada 6 (enam) diantaranya (1) rumah yang belum memiliki tangki septik atau masih BABS, (2) rumah yang memiliki tangki septik tetapi kondisinya tidak kedap, (3) rumah yang berada pada kawasan kumuh (berat, sedang dan sangat ringan), (4) rumah yang wilayahnya terkena banjir rob, (5) rumah dengan kondisi air tanah
yang tinggi dan (6) rumah yang wilayahnya dengan tingkat pencemaran bakteri Escherichia coli (E. coli) yang tinggi.

Realisasi program ini di Tahun 2020 sebanyak 434 titik yang tersebar di 4 (empat) kelurahan diantaranya Kelurahan Cibubur sebanyak 177 titik, Kelurahan Ciracas sebanyak 59 titik, Kelurahan Pasar Minggu sebanyak 141 titik dan Kelurahan Susukan sebanyak 57 titik. Ditargetkan pada Tahun 2021 sebanyak 2.000 warga dapat menerima manfaat dari program subsidi ini. Untuk program tahap II ini sudah masuk dalam tahap peninjauan lapangan yang tersebar di 5 (lima) kotamadya di Jakarta termasuk 1 (satu) Kabupaten Kepulauan Seribu yang nantinya dilanjutkan dengan pelaporan ke DSDA Pemprov. DKI Jakarta untuk dilakukan verifikasi.

Dalam pelaksanaannya, tangki septik yang digunakan adalah BIOPAL. BIOPAL merupakan tangki septik modifikasi yang diproduksi oleh PAL Jaya dan telah mendapat sertifikasi dari Pusat Litbang Perumahan dan Permukiman (Puskim) PUPR. BIOPAL yang digunakan memiliki kapasitas 1,125 m3 dengan jadwal penyedotan lumpur domestik setiap 3 (tiga) tahun sekali apabila digunakan untuk skala rumah tangga dengan kapasitas penghuni sebanyak 5 (lima) orang.

Sebagai upaya dalam peningkatan cakupan layanan dan askes sanitasi melalui sistem perpipaan (SPALDT), saat ini PAL Jaya sudah dan sedang mengembangkan Jaringan perpipaan air limbah di zona 0 (Eksisting) dan Pemprov. DKI Jakarta dalam hal ini Dinas Sumber Daya Air (DSDA) akan melaksanakan Proyek Pembangunan Jakarta Sewerage System (JSS) sebagai pengembangan pengolahan air limbah di DKI Jakarta. Pelaksanaan Proyek Pembangunan JSS dimulai dari 5 (lima) zona yaitu zona 1, 2, 5, 6 dan 8 dari total 15 zona (zona 0 sebagai zona eksisting). Disamping pembangunan di 5 zona tersebut, pengembangan zona 0 terus dilakukan PAL Jaya dan secara linear guna mengurangi beban pengolahan air limbah pada Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Setiabudi, saat ini sedang dilakukan konstruksi pembangunan IPAL Krukut yang nantinya akan mengolah debit air limbah secara optimal.

IPAL Setiabudi mengolah air limbah menggunakan metode kolam aerasi (Aerated lagoon) dan metode Moving Bed Biofilm Reactor (MBBR) dengan kapasitas pengolahan 250 liter per detik. Pengolahan menggunakan metode MBBR ini mulai beroperasi sejak bulan Maret 2019, yang semula hanya mengandalkan metode kolam aerasi yang berfungsi ganda, dimana selain mengolah air limbah system ini juga sebagai pengendali banjir sehingga operasional pengolahannya tidak optimal.

 

Pemilihan metode MBBR ini tidak hanya karena efektif dalam mengolah air limbah domestik tapi juga tidak memerlukan lahan yang luas untuk pengolahannya. Proses pengolahan menggunakan metode lumpur aktif dilanjutkan dengan proses koagulasi dan flokulasi serta pengolahan lanjutan (sand rapid filter), sehingga sesuai perencanaan akan menghasilkan kualitas effluent setara air daur ulang.

IPAL Krukut mulai masuk tahap konstruksi pada Bulan Desember 2019 dan direncanakan selesai pada Bulan April 2021. Pengolahan di IPAL Krukut didesain juga menggunakan MBBR dengan kapasitas pengolahan 100 liter per detik yang nantinya akan mengolah air limbah melalui sistem perpipaan (SPALDT) dari bangunan kawasan Sudirman dan sekitarnya. Selain sebagai tempat pengolahan air limbah, IPAL Krukut akan berfungsi sebagai sarana edukasi bagi masyarakat. Sampai akhir tahun 2020, progres pembangunan IPAL Krukut ini mencapai 43,88%. Pada akhir tahun 2021, ditargetkan jaringan perpipaan air limbah PAL Jaya terpasang sepanjang 107.930 meter, dengan cakupan pelayanan air limbah menjadi sebesar 13,67% atau setara dengan melayani 1.485.088 orang. (Supriyanto)

News Feed